
Bumi : Apakah sekarang kamu masih mencintainya ?
Gadjah : Tidak bumi, kenapa ? Ada yang salah ?
Bumi : Tapi bukankah dulu, bertahun-tahun yang lalu, kamu pernah sangat mencintainya ?
Gadjah : Benar bumi
Bumi : Lalu mengapa sekarang kamu berubah djah ? Bukankah cinta itu diciptakan untuk selamanya ?
Gadjah : Memang cinta diciptakan untuk selamanya, namun hanya dengan berbekal cinta saja tidak cukup bumi, apa lagi bekal itu digunakan untuk mengarungi samudra kehidupan yang aku sendiri pun sampai saat ini tidak tahu seberapa luasnya.
Bumi : Lalu dengan bekal apa lagi ?
Gadjah : Ah bumi… semua orang juga sudah tahu itu, selain cinta juga harus dibarengi dengan bekal pengorbanan, pengertian, kejujuran, komunikasi dan segala tetek bengek tentang cinta yang lain.
Bumi : Apakah cinta kalian tidak cukup kuat untuk mendapatkan bekal itu ?
Gadjah : Jangan tanyakan itu pada saya bumi, tanyakan pada dia.
Bumi : Kenapa harus dia ?
Gadjah : Karena dia merasa bahtera cinta, pengorbanan, dan pengertian yang saya berikan belum cukup layak untuk dipertahankan sehingga dia lari setiap kali ada gelombang menerjang. Dan gadjah tidak suka itu, kenapa harus lari, bukankah jika dihadapi bersama gelombang setinggi dan sebesar apapun akan bisa dihadapi meskipun tidak selalu mudah, semua orang tahu itu.
Bumi : Jika dia ingin kembali ?
Gadjah : Maafkan aku bumi, hatiku sudah menganga lebar tersakiti, kakiku pun sudah terpatahkan hingga untuk berdiri dan berjalan menatap waktu pun terasa sangat berat. Telinga pun sudah terlanjur kukunci rapat agar angin jahat tidak bisa masuk untuk membisikkan kejahatan fitnah dan kebohongan. Mata pun terancam buta oleh fitnah, ketidakadilan dan kebohongan.
Bumi : Jika dia masih bertahan untuk kembali ?
Gadjah : Sekali lagi maafkan aku bumi, aku tidak bisa. Dia boleh berbicara bagaimanapun tentang diriku, aku tidak peduli.
Bumi : Lalu apa maumu ?
Gadjah : Aku hanya ingin hidup yang baru.